image 5 Eyeglasshop

Jangan Tunda Kacamata Anak, 3,6 Juta Anak Refraksi Belum Terkoreksi


Ringkasan: Kemenkes menyebut sekitar 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi kacamata. Masalahnya bukan hanya buram. Pada anak, penglihatan yang terlambat dikoreksi bisa berujung mata malas (ambliopia) yang sulit dipulihkan. Panduan ini merangkum data resmi, tanda yang bisa dikenali orang tua dan guru, serta langkah konkret yang bisa dilakukan minggu ini.

Apa Itu Kelainan Refraksi pada Anak?

Petugas kesehatan melakukan skrining awal tajam penglihatan menggunakan snellen chart pada puluhan siswa di aula sekolah dasar.

Kelainan refraksi adalah kondisi saat mata tidak memfokuskan bayangan dengan tepat, sehingga penglihatan kabur. Jenis yang paling sering ditemukan pada anak usia sekolah adalah miopia atau rabun jauh, menurut rangkuman Popmama. Cara koreksi yang paling umum adalah kacamata dengan ukuran lensa yang sesuai hasil pemeriksaan.

Anak sering tidak menyadari ada yang salah. Mereka belum punya pembanding. Bagi mereka, dunia memang terlihat seperti itu.

Mengapa Jangan Tunda Kacamata Anak Penting di 2026?

Lembar cetak laporan Kemenkes yang menunjukkan data estimasi 3,6 juta anak mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi kacamata.

Karena skalanya besar, dan pemerintah sedang menggeser fokus ke deteksi dini. Pada 2 Februari 2026, Kemenkes menggelar acara peluncuran perluasan akses kesehatan mata dan skrining penglihatan. Dalam rilisnya, Kemenkes menyebut sekitar 3,6 juta anak Indonesia masih mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi dengan kacamata.

Kemenkes juga melaporkan skrining mata sekitar 55 juta penduduk berusia di atas 7 tahun sepanjang 2025. Sekitar 17 persen di antaranya ditemukan mengalami gangguan penglihatan. Untuk 2026, targetnya naik menjadi sekitar 140 juta orang, dari bayi hingga lansia, lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Artinya, pintu masuk pemeriksaan sudah lebih terbuka. Yang sering tertinggal justru langkah setelahnya: membawa anak ke pemeriksaan lanjutan dan membuatkan kacamata.

Dampaknya tidak berhenti di papan tulis. Menurut Kemenkes, gangguan penglihatan dapat memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan sosial anak. Popmama menambahkan bahwa penglihatan kabur bisa mengganggu belajar, bermain, dan rasa percaya diri anak di lingkungan sosialnya.

Data Kunci: Gambaran Angka Gangguan Penglihatan Anak di Indonesia

MetrikNilaiSumberPeriode
Anak dengan kelainan refraksi belum terkoreksi kacamata± 3,6 juta anakKemenkes RIFebruari 2026
Penduduk usia >7 tahun yang diskrining mata± 55 juta orangKemenkes RI2025
Temuan gangguan penglihatan dari skrining tersebut± 17%Kemenkes RI2025
Target skrining melalui Cek Kesehatan Gratis± 140 juta orangKemenkes RI2026
Anak dengan kelainan refraksi yang belum dikoreksi kacamata± 3 dari 4 anak (perkiraan)Kemenkes RIOktober 2024
Prevalensi gangguan penglihatan anak usia 5–19 tahun± 10% (perkiraan)Kemenkes, dikutip JEC2025
Anak rabun jauh di dunia165 juta (2021), diproyeksikan 275 juta (2050)IAPB, dikutip Kemenkes2021–2050

Satu Catatan soal Angka 3,6 Juta

Angka ini muncul dalam dua rumusan. Pada Oktober 2024, Kemenkes menyebut 3,6 juta anak mengalami kelainan refraksi, dan sekitar 3 dari 4 di antaranya belum mendapat koreksi kacamata. Pada Februari 2026, rilis Kemenkes menyebut 3,6 juta anak sebagai yang belum terkoreksi.

Dua kalimat itu tidak persis sama. Karena angkanya dikutip berulang dari 2024 sampai 2026, baca sebagai gambaran besaran masalah, bukan hitungan harian yang selalu diperbarui. Untuk kutipan formal, sebut sumber dan bulan rilisnya.

Menurut JEC yang dikutip Investortrust, sekitar 35–40 persen dari 3,6 juta anak itu berusia sekolah.

Risiko Menunda: Mata Malas dan Jendela Waktu yang Sempit

Dokter spesialis mata anak menjelaskan diagram medis mengenai perkembangan ambliopia atau mata malas kepada orang tua di klinik.

Risiko terbesar dari kacamata yang ditunda adalah ambliopia, atau mata malas. Ini penurunan perkembangan penglihatan yang terjadi saat otak tidak menerima rangsangan normal dari mata. Dr. Feti Karfiati Memed, SpM(K), menjelaskan bahwa ambliopia sering disebabkan kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, juling, atau kelainan di dalam mata seperti katarak.

Ia juga menegaskan bahwa hanya anak-anak yang bisa mengalami ambliopia. Kalau tidak diterapi pada masa anak-anak, hasilnya bisa berupa hilangnya penglihatan permanen.

Alomedika mencatat prevalensi ambliopia sekitar 1–3,5 persen pada anak sehat, dan 4–5,3 persen pada anak dengan kelainan mata. Anak sulit menyampaikan keluhan tajam penglihatan, sehingga kasusnya sering baru dicurigai lewat pemeriksaan visus rutin.

Berikut jendela waktu yang disebutkan Dr. Feti:

UsiaYang disampaikan
Sebelum 5 tahunWaktu paling menguntungkan untuk deteksi dan terapi
Setelah 5 tahunAmbliopia mulai sulit disembuhkan
Terapi setelah 8–10 tahunKehilangan penglihatan permanen dapat mulai terjadi

Dr. Feti juga menyebut bahwa pemeriksaan baru pada usia sekolah bisa terlambat. Pesannya sederhana: jangan menunggu anak mengeluh.

Faktor risiko yang disebutkannya meliputi kelahiran prematur, perkembangan terlambat, diabetes, serta riwayat keluarga dengan juling, mata malas, atau kacamata sejak kecil.

Satu hal penting untuk orang tua: sebagian ambliopia tidak terlihat dari luar. Mata anak bisa tampak normal, sementara satu mata bekerja jauh lebih lemah. Tanpa pemeriksaan, orang tua nyaris tidak punya cara untuk tahu.

7 Sinyal dan Faktor Risiko yang Perlu Dikenali Orang Tua

Seorang anak terlihat menyipitkan mata dan duduk terlalu dekat dengan layar televisi di ruang keluarga, menandakan gangguan refraksi.

Daftar ini bukan alat diagnosis. Hanya pemeriksaan oleh tenaga kesehatan mata yang bisa memastikan. Tapi tujuh hal berikut cukup menjadi alasan untuk segera memeriksakan anak.

  1. Anak sering menyipitkan mata. Popmama mengulas kebiasaan ini sebagai salah satu tanda yang bisa mengarah ke kelainan refraksi.
  2. Anak mendekat ke layar atau papan tulis. Alomedika mencatat anak dengan gangguan penglihatan cenderung maju untuk melihat TV atau papan tulis di kelas.
  3. Prestasi belajar menurun tanpa sebab jelas. Popmama menyebut banyak kasus baru ketahuan setelah nilai turun.
  4. Guru melapor anak sulit melihat papan tulis. Ini sinyal dari lingkungan sekolah yang sering muncul lebih dulu daripada keluhan anak.
  5. Anak tidak bisa membaca pada jarak tertentu. Direktur PTM Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyarankan konsultasi segera jika ini terjadi pada anak didik.
  6. Anak tidak pernah mengeluh. Justru itu bagian dari masalahnya. Popmama menjelaskan anak sering tidak sadar penglihatannya berbeda dari orang lain.
  7. Ada riwayat risiko. Prematur, perkembangan terlambat, atau keluarga dengan juling, mata malas, dan kacamata sejak kecil.

Kalau salah satu poin di atas cocok, jadwalkan pemeriksaan. Tidak perlu menunggu semuanya terpenuhi.

Miopia Bisa Bertambah Seiring Tumbuh Kembang

Pemeriksaan mata anak menggunakan mesin autorefractometer di optik untuk memantau penambahan ukuran minus seiring pertumbuhan.

Kacamata bukan hanya soal melihat jelas hari ini. Dalam diskusi profesional yang dilaporkan JPNN pada November 2024, dokter spesialis mata dari PERDAMI JAYA menjelaskan bahwa ukuran minus anak bisa meningkat selama masa pertumbuhan. Kenaikan itu dikaitkan dengan risiko komplikasi seperti kelainan retina, glaukoma, dan katarak.

Pada diskusi yang sama, upaya yang disebut dapat memperlambat progresi miopia meliputi:

  • memperbaiki gaya hidup anak,
  • terapi tetes mata,
  • penggunaan lensa khusus.

Pilihan mana yang cocok adalah keputusan dokter mata, bukan keputusan toko. Jangan memberi anak tetes mata atau lensa khusus tanpa resep dan pemeriksaan.

Langkah Praktis: Dari Curiga sampai Kacamata di Tangan

Resep resmi kacamata dari dokter spesialis berdampingan dengan buku catatan harian orang tua yang mencatat gejala keluhan mata anak.

Cara bertindak: 1) Catat tanda yang terlihat. 2) Periksakan ke tenaga kesehatan mata. 3) Ikuti hasil pemeriksaan refraksi. 4) Pilih kacamata sesuai resep. 5) Jadwalkan kontrol ulang.

Rinciannya:

  1. Catat yang Anda lihat. Tulis kapan anak menyipit, seberapa dekat ia duduk dari layar, dan apa kata guru. Catatan ini membantu dokter.
  2. Manfaatkan skrining gratis. Kemenkes mengarahkan deteksi dini lewat Cek Kesehatan Gratis. Untuk informasi layanan, Kemenkes mencantumkan hotline Halo Kemenkes di 1500-567.
  3. Lanjutkan ke pemeriksaan mata lengkap. Skrining adalah penyaring awal. Penentuan ukuran dan kemungkinan kondisi lain tetap perlu pemeriksaan lanjutan oleh dokter mata atau refraksionis.
  4. Buat kacamata sesuai resep. Jangan membeli kacamata jadi berdasarkan tebakan ukuran. Bawa resep terbaru, bukan ukuran lama.
  5. Pastikan anak benar-benar memakainya. Resep yang benar tidak berguna kalau kacamata lebih sering tinggal di tas.
  6. Jadwalkan kontrol ulang. Karena minus anak bisa berubah saat tumbuh, tanyakan ke dokter kapan pemeriksaan berikutnya.

Soal biaya: tidak ada satu angka resmi yang berlaku untuk semua. Harga bergantung pada ukuran lensa, jenis lensa, dan bingkai. Minta rincian harga sebelum membayar. Pada acara Hari Penglihatan Sedunia 2024, Kemenkes juga memberikan kacamata gratis untuk anak dengan kelainan refraksi. Pantau program serupa lewat puskesmas dan dinas kesehatan setempat.

Memilih Kacamata Anak Supaya Mau Dipakai

Seorang anak laki-laki tersenyum gembira saat mencoba berbagai pilihan bingkai kacamata warna-warni yang modis dan nyaman di sebuah optik.

Resep menentukan lensa. Bingkai menentukan apakah anak mau memakainya. Bingkai yang terasa aneh di wajah, atau membuat anak malu di depan teman, sering berakhir di laci.

Beberapa pertimbangan praktis, berdasarkan pengamatan umum dan bukan data riset:

  • Ajak anak memilih bingkai sendiri. Anak lebih mau memakai sesuatu yang ia pilih.
  • Coba langsung. Pastikan bingkai nyaman di hidung dan telinga, tidak mudah melorot saat anak bergerak.
  • Sesuaikan dengan aktivitas. Untuk anak yang aktif bergerak, lihat tren eyewear sporty 2026 sebagai referensi model.
  • Pelajari gaya bingkai. Untuk gambaran model, baca tren frame gaya retro modern.
  • Waspadai klaim lensa tambahan. Sebelum membayar fitur ekstra, baca dulu manfaat nyata dan mitos kacamata anti-radiasi.
  • Untuk aktivitas di luar ruang, pahami cara mengecek kacamata UV400 yang asli.

Kalau anak mulai malu karena kacamata minus, trik tampil stylish dengan kacamata minus bisa jadi bahan obrolan yang menyenangkan. Fokusnya tetap satu: kacamata sesuai resep dipakai secara konsisten.

Peran Guru dan Sekolah

Guru kelas mengamati siswanya yang kesulitan melihat tulisan di papan tulis dari bangku belakang, sebagai langkah awal deteksi refraksi.

Guru sering menjadi orang pertama yang melihat masalahnya. Popmama menyebut banyak kasus baru terungkap setelah guru melapor anak kesulitan melihat papan tulis. Itu artinya sekolah adalah titik deteksi yang berharga.

Beberapa hal yang bisa dilakukan sekolah:

  1. Beri tahu orang tua secara tertulis jika anak sering mendekat ke papan tulis.
  2. Atur tempat duduk anak sementara, sambil menunggu pemeriksaan.
  3. Fasilitasi informasi skrining mata di puskesmas atau program CKG.
  4. Hindari melabeli anak “malas belajar” sebelum penglihatannya diperiksa.

Poin terakhir menyangkut hal yang kerap terlewat. Menurut ulasan All About Vision, kesalahan refraktif yang tidak dikoreksi dan ambliopia pada anak dapat memunculkan perilaku yang tampak seperti gangguan perkembangan, padahal masalahnya murni penglihatan.

Baca Juga Resmi Diluncurkan, Kacamata Aspex EasyClip EC753 Hadir dengan Clip Magnet

FAQ: Kacamata dan Kelainan Refraksi pada Anak

Apa arti 3,6 juta anak refraksi belum terkoreksi?

Angka itu berasal dari Kemenkes, yang pada Februari 2026 menyebut sekitar 3,6 juta anak Indonesia mengalami kelainan refraksi yang belum terkoreksi dengan kacamata. Rumusan sebelumnya (Oktober 2024) menyebut 3,6 juta anak dengan kelainan refraksi, sekitar 3 dari 4 belum dikoreksi.

Bagaimana cara memulai jika anak dicurigai rabun?

Cara memulai: 1) Catat tanda yang terlihat di rumah dan sekolah. 2) Manfaatkan skrining gratis atau kunjungi puskesmas. 3) Lanjutkan ke dokter mata atau refraksionis. 4) Buat kacamata sesuai resep. 5) Jadwalkan kontrol ulang.

Berapa biaya kacamata anak?

Tidak ada satu angka resmi tunggal. Biaya bergantung pada ukuran lensa, jenis lensa, dan bingkai. Minta rincian sebelum membayar. Skrining lewat Cek Kesehatan Gratis dan program kacamata gratis tertentu dari Kemenkes bisa mengurangi biaya awal.

Apakah menunda kacamata anak berbahaya?

Bisa. Dr. Feti Karfiati Memed menjelaskan bahwa ambliopia yang tidak diterapi pada masa anak-anak dapat menyebabkan hilangnya penglihatan permanen. Kondisi ini mulai sulit disembuhkan setelah usia 5 tahun menurutnya.

Apakah anak yang tidak mengeluh pasti matanya normal?

Belum tentu. Popmama menjelaskan anak sering tidak menyadari penglihatannya berbeda dari orang lain, sehingga ketiadaan keluhan bukan jaminan.

Catatan: Panduan ini bersifat informatif dan bukan pengganti pemeriksaan. Keputusan resep, terapi tetes mata, atau lensa khusus ada pada dokter mata.